Senin, 13 Juni 2022

Kata Pengantar (2)

 Sebagai seorang santri yang tidak aktif di Pesantren, tentu sesekali saya rindu dengan Pesantren. Untuk mengobati rasa rindu tersebut, kemudian biasanya saya membuka-buka kembali kitab salaf yang pernah saya pelajari di Pesantren. Ada yang sekedar buka saja, tanpa memperhatikan tema apa. Atau sesekali memang membuka untuk mencari tau. Misalnya ketika bulan puasa, membuka dan membaca kembali bab puasa, idul fitri, dan seterusnya. 

Belakangan, saya mengkaji kitab Madarijus Su'ud. Sebuah kitab yang ditulis oleh ulama asal Indonesia sendiri. Syaikh Nawawi al-Bantani. Sebagai syarah atau keterangan lebih luas dari Kitab Maulid al-Barzanji, buah karya dari Sayyid Ja'far al-Barzanji. 

Ketika membuka dan membaca Kitab Madarijus Su'ud, iseng saya mencari terjemahannya di market place online. Ternyata belum ada. Lantas terlintas dalam benak saya, kenapa tidak saya terjemahkan saja. 

Dengan menterjemahkan kitab tersebut, akan ada banyak manfaat yang saya dapatkan. Selain dapat mengisi waktu luang, juga dapat mengobati rasa rindu saya terhadap Pesantren. Saya juga bisa belajar lagi. Belajar memahami, kemudian mentransfer pemahaman saya dalam bentuk tulisan agar dapat dipahami oleh orang lain. 

Sebuah tujuan yang sepertinya terlalu muluk. Mengingat, pada dasarnya saya adalah pemalas. Oleh karena itu, saya menekankan kepada diri saya sendiri. Dan kepada orang lain, yang mungkin akan menemukan tulisan ini, bahwa kemungkinan proyek terjemahan tidak akan sampai tamat. Meskipun tetap mungkin juga akan tamat. 

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati. Jika tulisan saya ini nantinya selesai. Dapat dicatat oleh Allah SWT sebagai amal kontribusi saya terhadap agama Islam. Jikapun tidak selesai, toh saya sudah pernah memulai dan berproses. Kita semua tau dan meyakini, bahwa amal kontribusi sekecil apapun, pasti akan mendapatkan apresiasi yang pantas dari Allah SWT. Tentu saja semuanya juga tergantung bagaimana niat kita beramal. Niat karenaNya atau karena yang lain. Wallahu a'lam.

Kata Pengantar

Bismillahirrohmannirrohim.
Dengan mengucapkan hamdalah dan menghaturkan sholawat kepada Nabi, saya ingin memulai kembali penulisan blog ini. 

Saya sempat kaget ketika membuka kembali blog saya ini. Karena tulisan terakhir dipublikasikan pada tahun 2017. Nun jauh dimasa lima tahun yang lalu. 

Belum ada niatan sebenarnya untuk menghidupkan kembali blog yang mati suri ini. Sebenarnya saya menyadari bahwa menulis adalah salah satu cara bagaimana kita menguraikan apa apa yang kita pikirkan. Tapi selama ini, meskipun saya cukup overthinking, saya lebih suka memendam pikiran itu. Berdialog dan kemudian berdamai dengan diri sendiri. 

Keputusan yang sedikit saya sesali sebenarnya. Karena dengan tidak menuliskannya, saya tidak memiliki jejak perkembangan emosional dan spiritual saya. Juga tidak memiliki jejak hasil perenungan dan pemikiran saya terhadap suatu hal. 


Kamis, 27 April 2017

Masjid Kalimantan dan Corak Islam Indonesia

Masjid Kyai Gede Kotawaringin


Membaca persebaran agama Islam di tanah Kalimantan, sejauh yang saya tahu ternyata banyak kesamaan atau justru terpengaruh dari Jawa. Hal yang paling mencolok yang tampak dalam pengamatan saya adalah bangunan-bangunan Surau atau Masjidnya. Kebanyakan bentuknya mirip dengan bangunan Masjid Demak. Atau dalam hal ini mirip dengan bangunan Pura, tempat Ibadah Umat Agama Hindu yang atapnya bersusun-susun.

Di tanah Jawa tempo dulu, pada masa awal penyebaran Agama Islam oleh Walisongo, tempat-tempat ibadah (Masjid) memang sengaja dibangun menyerupai Pura. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat yang pada mulanya beragama Hindu tidak segan atau merasa asing ketika memasuki Masjid. Bangunan Masjid yang diadaptasi dari Pura ini, kemudian mencadi corak dan khazanah tersendiri. Terutama bagi Muslim Indonesia di Tanah Jawa. Ketika menemukan banyak bangunan Surau dan Masjid di Kalimantan yang memiliki corak serupa, lantas timbulah dugaan saya bahwa Islam di Kalimantan mirip dengan Islam di Tanah Jawa.

Kamis, 20 April 2017

Pondasi Peradaban



Arca Prabu Airlangga
Tholabul ilmi fariidhotun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin.

Begitu kira-kira kaligrafi Arab bergaya Kufi yang tertulis di tembok kelas Pesantren saya kala itu. Tak hanya indah, kaligrafi ini juga menarik untuk diresapi maknanya. Satu kata dari kaligrafi itu yang kemudian perlu kita perhatikan lebih mendalam. Disitu tertulis fariidhoh. Dengan menambah huruf ya setelah ro.

Dalam keadaan biasa, kata fardhun yang berarti wajib, cukup ditulis dengan apa adanya. Sehingga, hadirnya huruf ya ini tampaknya memang mengandung maksud tersendiri yang khusus. Dan ini tidaklah mengherankan. Mengingat ujaran itu diucapkan oleh sosok paling jenius sepanjang masa. Rasulullah Muhammad SAW.

Penambahan huruf ya tersebut, jika ditelisik menggunakan gramatikal Bahasa Arab, yang dalam istilah Pesantren dikenal dengan ilmu Nahwu, dapat berarti ‘sangat’. Sehingga tulisan kaligrafi di kelas saya tersebut, jika diterjemahkan artinya akan menjadi seperti ini; “Mencari ilmu hukumnya sangat wajib bagi setiap kamu muslimin. Baik laki-laki maupun perempuan.”

Kamis, 06 April 2017

Kyai Gede Kotawaringin, Siapa Sebenarnya?

Panji, di Makam Kyai Gede


Sudah lumayan lama saya tau kalau di Kotawaringin Lama, Kota Kecamatan untuk desa yang saya tinggali sekarang ada sebuah Maqom yang sering diziarahi. Namun, kesempatan untuk mengunjungi Maqomnya secara langsung baru terlaksana beberapa tahun yang lalu. Tepatnya mungkin sekitar tiga atau empat tahun. Diajak oleh Bapak ziaroh. Kedudukan Maqom tokoh tersebut mungkin sama dengan para wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

Masyarakat Kotawaringin dan sekitarnya sering menyebut tokoh tersebut sebagai Kyai Gede. Dan tak ada yang tahu siapa nama sebenarnya dari Kyai Gede tersebut. Dahulu, dalam pikiran kecil saya, Beliau dipanggil dengan Kyai Gede mungkin karena fisik beliau yang memang Gede dan Tinggi. Terbukti dari panjang Maqom Beliau yang ukuran panjangnya mencapai lima meter. Tapi tentu saja itu hanyalah pikiran konyol. Karena ternyata banyak pula Maqom Auliya di Tanah Jawa yang dibangun panjang demikian. Maqom Raden Fatah di Demak misalnya.

Perkenalan dengan tokoh Kyai Gede kemudian tejadi kembali pada kunjungan saya ke rumah Bapak dan Mamak kali ini ke Kalimantan. Permulaannya sungguh tak terduga. Terjadi ketika saya menunggu jam keberangkatan pesawat dari Bandara Surabaya menuju Kalimantan. Saat itu, secara kebetulan saya duduk bersebelahan dengan seorang Bapak-bapak (saya lupa namanya) asal Nganjuk dan tinggal di Malang yang menurut prediksi saya adalah tokoh agama. Terlihat dari pancaran wajah dan jenggot beliu yang dipelihara panjang.