Sabtu, 08 Maret 2014

Asal Usul Dzikir; SubhanaLlah, wal HamduliLlah. . . .

Sumber: alhudamadrassa.wordpress.com

didinmahardi.blogspot.com – Cerita ini disampaikan oleh Pak M. Jamil, dosen mata kuliah Tauhid saya di semester empat ini. Nggak tau beliau dapat sumbernya dari mana.

Dalam khazanah dunia Islam, ada dikenal dzikir yang bunyinya seperti ini. Subhanallah wal hamdulillah, wa laa ilaha illallah, allahu akbar, wala haula wala quwata illa billah.

Dzikir tersebut tidak tercipta langsung komplit seperti itu. Tapi melalui proses yang lumayan panjang. Kemudian dirangkai satu per satu hingga membentuk wirid yang seperti itu.
***
  Selain menciptakan Malikat yang jumlahnya sepuluh itu, Allah juga menciptakan ribuan (kayaknya lebih dari sekedar ribuan deh..) malaikat lain dengan tugasnya masing-masing. Diantara yang ribuan itu, ada malaikat yang ditugaskan untuk memikul Arsy. Singgasana Allah.

Setiap malaikat Pemilkul Arsy merasa kelelahan, Allah memerintahkan mereka untuk bertasbih, subhanallah. Dan dengan begitu, berkuranglah kelelahan yang mereka rasakan. Dan ini menjadi awal dipopulerkannya dzikir subhanallah.

Beberapa masa kemudian, Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihis salam. Yang merupakan ayah dari setiap umat manusia. Syahdan, Nabi Adam yang awal mulanya ditempatkan di surga itupun harus terusir.

Setelah terusir dari surga, Nabi Adam sempat merasakan galau. Bukan karena kehilangan tempat tinggal. Tapi lebih karena kehilangan Ridho Allah yang maha tunggal. Singkat cerita akhirnya Nabi Adam bisa mendapatkan kembali Ridho Allah. Ini setelah mengucapkan sholawat untuk Kanjeng Nabi Muhammad SAW (makanya yang banyak baca sholawat yak…). Setelah mendapatkan kembali Ridho dan Ampunan Allah, segeralah Nabi Adam mengucapkan kalimat Alhamdulillah.

Demi mendengar Nabi Adam mengucapkan kalimat yang indah seperti itu, malaikat pemikul Arsy pun tertarik untuk ikut-ikutan melantunkannya. Setelah dilantunkan, lho kok berat Arsy yang mereka pikul menjadi bertambah ringan. Dan dari saat itu, malaikat menambahkan kalimat Alhamdulillah dalam wirid sehari-hari mereka. Hingga menjadi susunan kalimat yang berbunyi Subhanallah wal Hamdulillah.

Sedangkan asal-usul kalimat la ilaha illallah, terjadi pada masa Nabi Nuh ‘alaihis salam. Konon Nabi Nuh selalu menyerukan kalimat tersebut jika berdakwah kepada umatnya. Dan kalimat yang dipopulerkan oleh Nabi Nuh inipun lagi-lagi diikuti oleh para malaikat pemikul Arsy. Dan seperti sebelumnya, berat Arsy yang mereka pikul pun menjadi lebih ringan. Jadilah sejak saat itu malaikat pemikul Arsy menambah dzikir mereka menjadi Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah.

Allahu Akbar itulah kata yang terucap dari lisan agung Nabi Ibrahim. Ketika pisau yang Ia hunus untuk menyembelih putra kesayangannya justru berganti sasaran ke seekor kambing gemuk. Demi mendengar ucapan indah yang keluar dari lisan agung Nabi Ibrahim, malaikat pemikul Arsy pun tertarik untuk turut melantunkannya. Dan ternyata berat Arsy yang mereka pikulpun semakin berkurang. Jadilah sejak saat itu malaikat pemikul Arsy mewiridkan Subhanallah wal Hamdulillah wa La Ilaha Illallahu wallahu Akbar.

Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan penutup para Nabi, ketika dikisahkan kepada beliau tentang kejadian-kejadian tersebut, lantas mengucapkan La Haula Wa La Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Adzim. Dan kalimat yang keluar dari lisan agung Paduka Rasul Muhammad ini pun lagi-lagi menarik perhatian malaikat pemikul Arsy. Dari sekedar ketertarikan, mereka (malaikat pemikul Arsy) pun akhirnya turut coba-coba melafalkannya. Ehh.., kok tenyata berat Arsy yang mereka pikul semakin ringan saja. Karena itulah, sampai sekarang malaikat pemikul Arsy selalu mewiridkan kalimat Subhanallah wal Hamdulillah wa La Ilaha Illallahu wallahu Akbar wa La Haula wa La Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Adzim. (*)   

waLlahu A’lam bis Showab.

5 komentar:

  1. Pencerahan bagi saya, yang baru tahu asal muasalnya dari dzikir tersebut :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saling berbagi wawasan mas..

      Hapus
  2. Saya mendengar kemudian membaca ini dua kali. Pertama, dari Pak Topek guru olga itu lo.... Saya rasa itu benar. :) Terimakasih mengingatkan cerita ini. *sayabakalbanyakkomenkayaknya

    BalasHapus