Sabtu, 07 Maret 2015

Yang Saya Banggakan Dari Indonesia



Dari sekian hal yang bisa dibanggakan dari Indonesia, saya lebih tertarik pada satu hal. Sifat dan kepribadian penduduknya. Memang tidak dapat dipungkirin bahwa tidak semua penduduk Indonesia baik. Tapi ada satu orang yang saya rasa cukup untuk merepresentasikan sifat dari kebanyakan penduduk Indonesia. Beliau adalah KH. Abdurrohman Wahid. Atau yang biasa dikenal dengan Gus Dur.

Ketika saya membaca berita-berita yang mengulas perkembangan politik di Timur Tengah, selalu hati dapat berbangga diri. Betapa tidak? Jika kita amati, konflik-konflik yang terjadi di Timur Tengah selalu tentang rakyat yang pro dan kontra terhadap pemerintahannya. Dari yang awalnya pro dan kontra itu, lantas menjadi pertumpahan darah yang mengiris hati.

Untunglah kita punya Gus Dur. Yang dengan legowo turun dari jabatannya sebagai Presiden kala itu. Karena, seperti halnya Timur Tengah, terdapat banyak pihak yang pro dan kontra terhadap kepemimpinan Gus Dur. Boleh jadi jika Gus Dur ngotot mempertahankan kepemimpinannya saat itu, akan banyak rakyat yang membelanya. Terutama kaum Nahdliyin. Tapi siapa yang dapat menjamin bahwa pihak yang kontra tidak akan melakukan pemberontakan? Betapa Indonesia akan menjadi banjir darah hanya karena ke-egois-an satu orang? Alhamdulillah kejadian yang demikian tidak terjadi. Karena seperti kata Gus Dur. “Tidak ada satu pun jabatan di dunia ini yang pantas dipertahankan mati-matian.”

Selain Gus Dur, hal yang saya banggakan dari Indonesia adalah kaum beragamanya. Adalah jika mayoritas kaum beragama di Indonesia adalah Islam. Tapi meskipun menjadi pihak yang mayoritas, Islam di Indonesia tidak lantas menjadi semena-mena. Mereka sepenuhnya sadar terhadap konsekuensi dari sifat semena-mena dan mau menang sendiri. Karena memang terdapat semacam pengertian bahwa pihak yang mayoritas haruslah memberikan toleransi kepada pihak yang minoritas.
Jika kita menengok sejarah masuknya Islam ke Indonesia, dapat kita temukan bahwa terdapat perbedaan mencolok dengan sejarah masuknya Islam ke kawasan sekitar Timur Tengah. Jika Islam di Timur Tengah masuk dengan cara menaklukkan yang identik dengan perang, maka Islam di Indonesia masuk dengan mau’idhotil hasanah. Dengan penyampaian yang baik. Tengoklah bagaimana para Walisongo itu menyebarkan agama Islam. Mayoritas dari mereka menyebarkan dengan cara yang berbasis kultural, budaya.

Walisongo datang ke Indonesia tidak dengan pasukan. Hanya dengan kelompok-kelompok kecil. Bahkan mungkin ada pula yang datang seorang diri tanpa kelompok. Terombang-ambing di lautan menumpang kapal para pedagang. Diantara mereka yang datang itu, lantas ada yang menjadi tabib, pedagang, dan berbagai profesi lainnya.

Literatur sejarah yang saya baca, belum ada yang secara spesifik menjelaskan bagaimana cara dakwah Walisongo pada periode pertama kedatangannya (perlu diketahui bahwa terdapat beberapa periode masa Walisongo. Terjadi tambal sulam pada setiap periode tersebut. Dimana Wali yang wafat atau kembali ke daerah asalnya digantikan oleh Wali dari generasi setelahnya). Hanya disebutkan bahwa Walisongo periode pertama adalah Ulama-Ulama mumpuni yang diutus Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki Usmani untuk berdakwah ke Indonesia.

Disebutkan pula bahwa selain mumpuni dibidang keislaman, Walisongo adalah juga ahli dalam bidang pertabiban dan tata kelola negara. Diantaranya ada pula yang ahli me-ruqyah daerah-daerah tertentu agar terbebas dari unsur-unsur negatif. Mungkin karena Ulama Walisongo banyak terdiri dari orang-orang yang ahli tata kelola negara itulah maka penyebaran agama Islam di Indonesia dapat masuk dengan jalan tanpa kekerasan. Tapi lebih pada memberi contoh langsung dan budi luhur. Baru pada periode-periode berikutnya, dakwah Walisongo dilakukan dengan cara yang bersifat kultural. Tokoh pelopornya adalah Sunan Bonang dan kemudian Sunan Kalijaga.

Mungkin karena teladan yang diberikan Walisongo tersebut lantas iklim toleransi beragama di Indonesia bisa tertanam begitu kuatnya. Para kaum beragama di negeri ini saling memberi “selamat” disetiap perayaan hari raya. Meskipun mereka itu berlatar belakang agama yang berbeda.

Tidak saya pungkiri bahwa hal-hal semacam itu terkadang juga menimbulkan pro dan kontra pula. Dari umat Islam misalnya, ada yang berpendapat memberi “selamat” kepada pemeluk agama lain tidak diperbolehkan. Tapi toh percikan-percikan kecil seperti itu tidak sampai menimbulkan konflik. Rakyat Indonesia sudah cukup dewasa untuk menghargai perbedaan.

Hipotesis terhadap asal-usul sifat legowo rakyat Indonesia yang saya uraikan di atas, tentu tidak dapat saya ajukan sebagai kebenaran yang tunggal. Karena peradaban Indonesia sudah dimulai beribu tahun sebelum Walisongo datang membawa pengaruhnya. (DPM)

Yogyakarta, 07 Maret 2015

6 komentar:

  1. "adalah jika mayoritas...." itu pemborosan kata mas.
    dan sarannya, kalau disertakan bukti sejarahnya, misal manuskrip, mungkin lebih bagus (y)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mator tengkyu mas , , ,
      kapan2 semoga bisa menyertakan manuskripnya hahaha

      Hapus
  2. bagus mas, curhatannya..hehe

    BalasHapus
  3. Balasan
    1. hahaha kroso soko tulisane yo kang?

      Hapus