Rabu, 19 Februari 2014

Melihat Kanjeng Nabi Muhammad

Sumber: http://elgozaly.wordpress.com

didinmahardi.blogspot.com – 

“Melihat guru itu pahalanya sama dengan melihat Nabi Muhammad.” Kalimat tersebut pertama kali saya dengar dari Guru Ngaji saya, Ust. Syamsul Ma’arif ketika saya masih SD di Kalimantan Tengah.

Sejak saat itu, ketika ngaji atau sekolah, saya selalu menyempatkan diri untuk curi-curi pandang melihat guru saya. Tentu saja saya tak berani memandang langsung dan terus menerus. Karena dalam pandangan saya, seorang guru memiliki aura tersendiri dan wibawa tertentu yang membuat saya (dan mungkin juga murid-murid lainnya) segan untuk bertatap mata langsung.

Selain segan, juga ada perasaan takut jika dianggap tidak sopan atau berani melawan guru. Karena saya berfikiran bahwa tidak semua guru mengetahui ujar-ujar yang diungkapkan Ust. Syamsul Ma’arif di atas. Jangankan guru yang belum tau, yang sudah taupun kadang-kadang bisa lupa.


Pernah suatu ketika saya ditegur kerena memandangi seorang guru saya yang sedang menjelaskan isi buku Faraidul Bahiyah. Disaat teman-teman yang lainnya menunduk ta’dzim. “Murid itu macam-macam, ada yang suka memandangi gurunya. Entah karena apa, mungkin karena suka pada gurunya atau sebab lainnya. . . .” ucap guru saya dengan tersenyum dan sedikit bergurau. Saat itu, mungkin teman-teman mengira kalimat guru saya itu tidak ditujukan pada siapa-siapa. Hanya sekedar memberi informasi atau pengajaran. Tapi saya yakin bahwa kalimat itu ditujukan kepada saya. 

***
Bertahun-tahun saya meyakini kalimat yang disampaikan Ust. Syamsul Ma’arif tersebut. Tak pernah terbersit sedikitpun dihati saya untuk meragukan kalimat tersebut. Apalagi menganggapnya suatu kebohongan atau mengada-ada.

   Hingga pada suatu hari, dalam perayaan Maulid Nabi yang diselenggarakan pengurus OSIS di Madrasah Aliyah (saat itu saya kelas dua Aliyah, kayaknya), saya mendengar lagi kalimat yang serupa. Kali ini malah lebih valid.

Kalimat tersebut disampaikan oleh Gus Ashfin ‘Abdurrahman, yang saat itu mengisi Mauidzoh Hasanah. Di tengah-tengah Mauidzoh Hasanahnya, Gus Ashfin mengutip Hadits Kanjeng Nabi. “Man roani dakhola jannah. Wa man roa man roani ila yaumil qiyamah, dakhola jannah.” Siapa yang melihatku pasti masuk surga. Dan siapa yang melihat orang yang melihatku sampai hari kiyamat, pasti masuk surga.

Jika diruntutkan, orang-orang yang pernah melihat Kanjeng Nabi pertama-tama adalah para sahabat. Kemudian para tabi’in yang belajar kepada para sahabat. Kemudian para tabi’ut tabi’in. Kemudian para ulama yang belajar kepada tabi’ut tabi’in, dan seterusnya. Turun temurun hingga sampai kepada guru-guru kita. 

Hadis di atas saya artikan “. . . pasti masuk surga,” bukan tanpa alasan. Karena (meskipun masih dangkal) saya memahami gramatikal bahasa Arab. Khusunya Ilmu Nahwu dan Shorof.

Dalam ilmu shorof, ada dikenal istilah fi’il madhi (kata kerja untuk masa yang lampau) dan fi’il mudhri’ (kata kerja untuk masa sekarang dan akan datang). Contoh dari masing-masing fi’il tersebut adalah kata dakhola, yadkhulu.

Jika diaplikasikan pada hadis di atas, seharusnya Rasulullah mengucapkan “Man roani yadkhulu jannah. . . .” yang artinya “siapa yang melihatku akan masuk surga.” Tapi kenyataannya, Rasulullah justru menggunakan kata dakhola yang artinya ‘telah’. Fi’il Madhi (kata kerja masa lampau) jika digunakan untuk menunjukkan kejadian yang akan datang (istiqbal/fi’il mudhori’) maka artinya akan menjadi ‘pasti.’ WaLlahu a’lam. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar