![]() |
Panji, di Makam Kyai Gede |
Sudah lumayan lama saya
tau kalau di Kotawaringin Lama, Kota Kecamatan untuk desa yang saya tinggali
sekarang ada sebuah Maqom yang sering diziarahi. Namun, kesempatan untuk
mengunjungi Maqomnya secara langsung baru terlaksana beberapa tahun yang lalu. Tepatnya
mungkin sekitar tiga atau empat tahun. Diajak oleh Bapak ziaroh. Kedudukan
Maqom tokoh tersebut mungkin sama dengan para wali penyebar agama Islam di
Tanah Jawa.
Masyarakat Kotawaringin
dan sekitarnya sering menyebut tokoh tersebut sebagai Kyai Gede. Dan tak ada
yang tahu siapa nama sebenarnya dari Kyai Gede tersebut. Dahulu, dalam pikiran
kecil saya, Beliau dipanggil dengan Kyai Gede mungkin karena fisik beliau yang
memang Gede dan Tinggi. Terbukti dari panjang Maqom Beliau yang ukuran
panjangnya mencapai lima meter. Tapi tentu saja itu hanyalah pikiran konyol.
Karena ternyata banyak pula Maqom Auliya di Tanah Jawa yang dibangun panjang
demikian. Maqom Raden Fatah di Demak misalnya.
Perkenalan dengan tokoh
Kyai Gede kemudian tejadi kembali pada kunjungan saya ke rumah Bapak dan Mamak
kali ini ke Kalimantan. Permulaannya sungguh tak terduga. Terjadi ketika saya
menunggu jam keberangkatan pesawat dari Bandara Surabaya menuju Kalimantan.
Saat itu, secara kebetulan saya duduk bersebelahan dengan seorang Bapak-bapak
(saya lupa namanya) asal Nganjuk dan tinggal di Malang yang menurut prediksi
saya adalah tokoh agama. Terlihat dari pancaran wajah dan jenggot beliu yang
dipelihara panjang.
Setelah saling sapa dan
Bapak tersebut tahu bahwa tujuan kami sama-sama ke Pangkalanbun, dimulailah
obrolan kami. Ngalor-ngidul gak
jelas. Hingga sampailah pada pembahasan tentang tokoh yang dimakamkam di
Kotawaringin itu. Kyai Gede. Saya baru tahu bahwa ternyata istri Kyai Gede
justru dimakamkan di daerah Gresik Jawa. Selain itu, menurut Bapak yang
bercakap-cakap dengan saya tersebut, Kyai Gede sebenarnya adalah utusan dari
Kerajaan Demak yang bertugas menyebarkan agama Islam ke Kalimantan. Tetapi
sesampainya di Kalimantan, entah terjadi konflik yang bagaimana, sehingga Kyai
Gede justru mendirikan Kerajaan di Kotawaringin dengan Beliau sebagai Raja atau
Sultannya. Sehingga, tujuan semula yang sedianya akan menyebarkan agama Islam
justru menjadi Sultan.
Informasi tambahan
mengenai siapa tokoh Kyai Gede saya dapat pada minggu pertama setelah saya di
Kalimantan. Beberapa hari setelah sampai di Kalimantan, saya merencanakan
ziaroh ke Maqom Kyai Gede. Tak sopan rasanya ketika saya datang kesini namun
tidak kulonuwun dengan Beliau selaku
penyebar Islam sekaligus tokoh yang disepuhkan di Kotawaringin.
Kebetulan, hari yang
saya rencanakan untuk melakukan ziaroh adalah hari libur nasional. Tanggal 28
maret. Sehingga saya bisa mengajak keponakan saya yang masih kelas enam SD.
Panji.
Sore hari selepas
melakukan ziaroh, saya menyempatkan diri untuk ngobrol dengan juru kunci Maqom
yang kebetulan sedang membersihkan halaman sekitar Maqom. Meneruskan tradisi
yang sudah kami biasakan dari Jawa. Bahwa menziarahi Maqom, sebisa mungkin
untuk dapat mengenali pula siapa tokoh yang dimakamkan tersebut. Harapannya
kita dapat meniru dan mendapat inspirasi baru dari perjuangan serta tindak lampah seorang tokoh semasa
hidupnya.
Hal pertama yang saya
ingin tahu adalah siapa sebenarnya tokoh Kyai Gede tersebut. Mengenai hal ini
tampaknya bapak Juru Kunci juga masih belum tahu jelas. Dari penjelasan Beliau
saya ketahui bahwa Kyai Gede adalah utusan persahabatan dari Kerajaan Demak ke
Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan. Dua kerajaan yang memiliki komitmen sama
untuk mengusir penjajah. Kyai Gede datang membawa 40 orang pengikut dan menumpang
kapal dagang menuju Banjar. Misi utamanya adalah dakwah.
Dari Banjar kemudian
perjalanan Kyai Gede dilanjutkan ke Kotawaringin. Saya luput bertanya, siapa
tokoh yang memberi nama Kotawaringin. Namun jelasnya, sebelum kedatangan Kyai
Gede, di Kotawaringin sudah ada penduduk yang menempati. Belakangan, setelah
pengaruh Kyai Gede dan Islam mulai kuat di Kotawaringin, penduduk asli justru
menyingkir ke atas (maksudnya mungkin hulu Sungai Lamandau). Dalam bayangan
saya, kejadian ini sama dengan tersingkirnya penduduk Majapahit yang enggan
masuk Islam dan justru menyingkir ke Blambangan (sekarang Banyuwangi) dan
kemudian ke Bali.
![]() |
Istana Alnursari Tampak dari Samping :D |
Tentang nama sebenarnya
dari Kyai Gede, Juru Kunci Maqom juga belum tahu. Perlu diketahui, bahwa
setelah masyarakat Dayak Kotawaringin berpindah ke Atas, lantas berdiri sebuah
Kerajaan di Kotawaringin. Persis seperti keterangan dari Bapak-bapak yang saya
temui di Bandara Surabaya tempo hari. Nama Kerajaan tersebut kemungkinan adalah
Kerajaan Kotawaringin. Sedangkan nama dari Istana yang di tempati Sultan adalah
Astana Al Nursari. Menurut catatan yang tertera di dalam Maqom Kyai Gede, Raja
Pertama dari Kerajaan Kotawaringin adalah Pangeran Pati Anta Kusuma.
Nama asli dari Kyai
Gede sebagai tokoh yang diyakini sebagai penyebar agama Islam pertama di
Kalimantan Tengah memang masih simpang siur. Hal ini lantas memunculkan dugaan
apakah Kyai Gede merupakan Pangeran Pati Anta Kusuma itu sendiri. Yang artinya
adalah merupakan sang Sultan dari Kerajaan Kotawaringin. Wallahua’lam.
Maqom Kyai Gede sendiri
baru ramai diziarahi pada dekade belakangan ini. Menurut Juru Kunci, pada kurun
sekitar tahun 80-an belum banyak yang melakukan ziarah ke Maqom Kyai Gede.
Kondisi sekitar Maqom pun masih cenderung semak-semak. Meskipun memang sudah
ada cungkup yang menutupi Maqom. Sedangkan panjang Maqom memang sudah panjang
seperti saat ini.
![]() |
Batu Pipih Ikan Belida |
Hal kedua yang menarik
perhatian saya adalah adanya batu pipih yang berada di sebelah barat Maqom Kyai
Gede. Saya amat-amati tidak ada tulisan yang tertera sebagai keterangan di batu
tersebut. Menurut keterangan dari Bapak Juru Kunci, batu tersebut adalah Ikan
Belida. Seekor ikan yang terus mengiringi Kyai Gede di atas Sungai Lamandau
ketika Beliau dalam perjalanan menuju ke Kotawaringin. Saking sukanya ikan
tersebut mengikuti Kyai Gede, ketika Kyai Gede sudah naik ke darat, ikan
tersebut juga turut naik ke darat dan kemudian menjadi batu.
Hal ketiga yang menarik
perhatian saya, adalah dominasi warna kuning di dalam Maqom. Tidak hanya di
sekitar Kotawaringin, dominasi warna kuning ini juga tampak pada banyak tempat
cagar budaya di bagian Kalimantan yang lain. Keterangan yang saya dapat, warna
kuning tersebut adalah lambang dari Kerajaan Banjar. Sebagai Kerajaan Islam
pertama di tanah Kalimantan. Sehingga banyak tokoh maupun tempat, terutama yang
bernuansa Islam menggunakan warna kuning. Hal ini adalah bentuk penghormatan
kepada Kerajaan Banjar. Atau kalau di Jawa, seperti terdapatnya ornamen-ornamen
Surya Majapahit di dalam Masjid Demak. Sebagai bentuk penghormatan dewan
Walisongo kepada Raden Fatah, Sultan Pertama Kerajaan Demak yang masih
merupakan Pangeran Majapahit.
Motif kedatangan Kyai
Gede ke Kalimantan menurut banyak sumber memang berhubungan dengan Kerajaan
Demak. Namun, menurut perspektif pribadi saya, kedatangan Kyai Gede ke
Kalimantan mungkin justru ada kaitannya dengan kematian Istri Beliau. Sebagai
langkah untuk move on karena
kehilangan Istri yang sangat dicintainya. Kecuali kalau memang terdapat data
yang menolak pendapat saya ini.
Segala hal yang berkaitan dengan tokoh penyebar agama Islam di Kotawaringin bahkan mungkin Kalimantan Tengah ini memang masih kabur dan memerlukan riset yang panjang serta mendalam. Namun, data dan keterangan-keterangan kecil yang berserak saya rasa memang harus dituliskan. Jikalau belum lengkap, kiranya dapatlah menjadi semacam pengantar agar dapat diteruskan oleh generasi peneliti mendatang.
Rabu, 05 April 2017
Ds. Sagu, Kec. Kotawaringin Lama, Kab. Kotawaringin Barat
Kalimantan Tengah
Sy tidak tau apa ini cara kebetulan saja atau gimana. Yg jelas sy berani sumpah kalau sy berbohon. Kebetulan saja buka internet dpt nomer ini +6282354640471 Awalnya memang takut hubungi nomer trsbut. Setelah baca-baca artikel nya. ada nama Mbah Suro katanya sih.. bisa bantu orang mengatasi semua masalah nya. baik jalan Pesugihan maupun melalui anka nomer togel. Setelah dengar arahan nya bukan jg larangan agama atau jlan sesat. Tergantung dri keyakinan dan kepercayaan sja. Syukur Alhamdulillah benar2 sudah terbukti sekarang.
BalasHapus