Kamis, 06 April 2017

Kyai Gede Kotawaringin, Siapa Sebenarnya?

Panji, di Makam Kyai Gede


Sudah lumayan lama saya tau kalau di Kotawaringin Lama, Kota Kecamatan untuk desa yang saya tinggali sekarang ada sebuah Maqom yang sering diziarahi. Namun, kesempatan untuk mengunjungi Maqomnya secara langsung baru terlaksana beberapa tahun yang lalu. Tepatnya mungkin sekitar tiga atau empat tahun. Diajak oleh Bapak ziaroh. Kedudukan Maqom tokoh tersebut mungkin sama dengan para wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa.

Masyarakat Kotawaringin dan sekitarnya sering menyebut tokoh tersebut sebagai Kyai Gede. Dan tak ada yang tahu siapa nama sebenarnya dari Kyai Gede tersebut. Dahulu, dalam pikiran kecil saya, Beliau dipanggil dengan Kyai Gede mungkin karena fisik beliau yang memang Gede dan Tinggi. Terbukti dari panjang Maqom Beliau yang ukuran panjangnya mencapai lima meter. Tapi tentu saja itu hanyalah pikiran konyol. Karena ternyata banyak pula Maqom Auliya di Tanah Jawa yang dibangun panjang demikian. Maqom Raden Fatah di Demak misalnya.

Perkenalan dengan tokoh Kyai Gede kemudian tejadi kembali pada kunjungan saya ke rumah Bapak dan Mamak kali ini ke Kalimantan. Permulaannya sungguh tak terduga. Terjadi ketika saya menunggu jam keberangkatan pesawat dari Bandara Surabaya menuju Kalimantan. Saat itu, secara kebetulan saya duduk bersebelahan dengan seorang Bapak-bapak (saya lupa namanya) asal Nganjuk dan tinggal di Malang yang menurut prediksi saya adalah tokoh agama. Terlihat dari pancaran wajah dan jenggot beliu yang dipelihara panjang.

Setelah saling sapa dan Bapak tersebut tahu bahwa tujuan kami sama-sama ke Pangkalanbun, dimulailah obrolan kami. Ngalor-ngidul gak jelas. Hingga sampailah pada pembahasan tentang tokoh yang dimakamkam di Kotawaringin itu. Kyai Gede. Saya baru tahu bahwa ternyata istri Kyai Gede justru dimakamkan di daerah Gresik Jawa. Selain itu, menurut Bapak yang bercakap-cakap dengan saya tersebut, Kyai Gede sebenarnya adalah utusan dari Kerajaan Demak yang bertugas menyebarkan agama Islam ke Kalimantan. Tetapi sesampainya di Kalimantan, entah terjadi konflik yang bagaimana, sehingga Kyai Gede justru mendirikan Kerajaan di Kotawaringin dengan Beliau sebagai Raja atau Sultannya. Sehingga, tujuan semula yang sedianya akan menyebarkan agama Islam justru menjadi Sultan.

Informasi tambahan mengenai siapa tokoh Kyai Gede saya dapat pada minggu pertama setelah saya di Kalimantan. Beberapa hari setelah sampai di Kalimantan, saya merencanakan ziaroh ke Maqom Kyai Gede. Tak sopan rasanya ketika saya datang kesini namun tidak kulonuwun dengan Beliau selaku penyebar Islam sekaligus tokoh yang disepuhkan di Kotawaringin.

Kebetulan, hari yang saya rencanakan untuk melakukan ziaroh adalah hari libur nasional. Tanggal 28 maret. Sehingga saya bisa mengajak keponakan saya yang masih kelas enam SD. Panji.

Sore hari selepas melakukan ziaroh, saya menyempatkan diri untuk ngobrol dengan juru kunci Maqom yang kebetulan sedang membersihkan halaman sekitar Maqom. Meneruskan tradisi yang sudah kami biasakan dari Jawa. Bahwa menziarahi Maqom, sebisa mungkin untuk dapat mengenali pula siapa tokoh yang dimakamkan tersebut. Harapannya kita dapat meniru dan mendapat inspirasi baru dari perjuangan serta tindak lampah seorang tokoh semasa hidupnya.

Hal pertama yang saya ingin tahu adalah siapa sebenarnya tokoh Kyai Gede tersebut. Mengenai hal ini tampaknya bapak Juru Kunci juga masih belum tahu jelas. Dari penjelasan Beliau saya ketahui bahwa Kyai Gede adalah utusan persahabatan dari Kerajaan Demak ke Kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan. Dua kerajaan yang memiliki komitmen sama untuk mengusir penjajah. Kyai Gede datang membawa 40 orang pengikut dan menumpang kapal dagang menuju Banjar. Misi utamanya adalah dakwah.

Dari Banjar kemudian perjalanan Kyai Gede dilanjutkan ke Kotawaringin. Saya luput bertanya, siapa tokoh yang memberi nama Kotawaringin. Namun jelasnya, sebelum kedatangan Kyai Gede, di Kotawaringin sudah ada penduduk yang menempati. Belakangan, setelah pengaruh Kyai Gede dan Islam mulai kuat di Kotawaringin, penduduk asli justru menyingkir ke atas (maksudnya mungkin hulu Sungai Lamandau). Dalam bayangan saya, kejadian ini sama dengan tersingkirnya penduduk Majapahit yang enggan masuk Islam dan justru menyingkir ke Blambangan (sekarang Banyuwangi) dan kemudian ke Bali.

Istana Alnursari Tampak dari Samping :D
Tentang nama sebenarnya dari Kyai Gede, Juru Kunci Maqom juga belum tahu. Perlu diketahui, bahwa setelah masyarakat Dayak Kotawaringin berpindah ke Atas, lantas berdiri sebuah Kerajaan di Kotawaringin. Persis seperti keterangan dari Bapak-bapak yang saya temui di Bandara Surabaya tempo hari. Nama Kerajaan tersebut kemungkinan adalah Kerajaan Kotawaringin. Sedangkan nama dari Istana yang di tempati Sultan adalah Astana Al Nursari. Menurut catatan yang tertera di dalam Maqom Kyai Gede, Raja Pertama dari Kerajaan Kotawaringin adalah Pangeran Pati Anta Kusuma.

Nama asli dari Kyai Gede sebagai tokoh yang diyakini sebagai penyebar agama Islam pertama di Kalimantan Tengah memang masih simpang siur. Hal ini lantas memunculkan dugaan apakah Kyai Gede merupakan Pangeran Pati Anta Kusuma itu sendiri. Yang artinya adalah merupakan sang Sultan dari Kerajaan Kotawaringin. Wallahua’lam.

Maqom Kyai Gede sendiri baru ramai diziarahi pada dekade belakangan ini. Menurut Juru Kunci, pada kurun sekitar tahun 80-an belum banyak yang melakukan ziarah ke Maqom Kyai Gede. Kondisi sekitar Maqom pun masih cenderung semak-semak. Meskipun memang sudah ada cungkup yang menutupi Maqom. Sedangkan panjang Maqom memang sudah panjang seperti saat ini.

Batu Pipih Ikan Belida
Hal kedua yang menarik perhatian saya adalah adanya batu pipih yang berada di sebelah barat Maqom Kyai Gede. Saya amat-amati tidak ada tulisan yang tertera sebagai keterangan di batu tersebut. Menurut keterangan dari Bapak Juru Kunci, batu tersebut adalah Ikan Belida. Seekor ikan yang terus mengiringi Kyai Gede di atas Sungai Lamandau ketika Beliau dalam perjalanan menuju ke Kotawaringin. Saking sukanya ikan tersebut mengikuti Kyai Gede, ketika Kyai Gede sudah naik ke darat, ikan tersebut juga turut naik ke darat dan kemudian menjadi batu.

Hal ketiga yang menarik perhatian saya, adalah dominasi warna kuning di dalam Maqom. Tidak hanya di sekitar Kotawaringin, dominasi warna kuning ini juga tampak pada banyak tempat cagar budaya di bagian Kalimantan yang lain. Keterangan yang saya dapat, warna kuning tersebut adalah lambang dari Kerajaan Banjar. Sebagai Kerajaan Islam pertama di tanah Kalimantan. Sehingga banyak tokoh maupun tempat, terutama yang bernuansa Islam menggunakan warna kuning. Hal ini adalah bentuk penghormatan kepada Kerajaan Banjar. Atau kalau di Jawa, seperti terdapatnya ornamen-ornamen Surya Majapahit di dalam Masjid Demak. Sebagai bentuk penghormatan dewan Walisongo kepada Raden Fatah, Sultan Pertama Kerajaan Demak yang masih merupakan Pangeran Majapahit.

Motif kedatangan Kyai Gede ke Kalimantan menurut banyak sumber memang berhubungan dengan Kerajaan Demak. Namun, menurut perspektif pribadi saya, kedatangan Kyai Gede ke Kalimantan mungkin justru ada kaitannya dengan kematian Istri Beliau. Sebagai langkah untuk move on karena kehilangan Istri yang sangat dicintainya. Kecuali kalau memang terdapat data yang menolak pendapat saya ini.

Segala hal yang berkaitan dengan tokoh penyebar agama Islam di Kotawaringin bahkan mungkin Kalimantan Tengah ini memang masih kabur dan memerlukan riset yang panjang serta mendalam. Namun, data dan keterangan-keterangan kecil yang berserak saya rasa memang harus dituliskan. Jikalau belum lengkap, kiranya dapatlah menjadi semacam pengantar agar dapat diteruskan oleh generasi peneliti mendatang.


Rabu, 05 April 2017
Ds. Sagu, Kec. Kotawaringin Lama, Kab. Kotawaringin Barat
Kalimantan Tengah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar