Senin, 27 Juli 2015

Ladang dan Bibitnya (bukan pelajaran Geografi)



Sudah sering kita mendengar salah satu ayat Al Quran Nisaaukum khartsul lakum. Istri-istri kamu adalah (seperti) ladang tempat kamu bercocok tanam.

Dari pencarian yang saya lakukan di dunia maya tentang tafsir dari ayat tersebut, mayoritas menjelaskan tentang posisi ketika berhubungan badan. Yang artinya tafsir-tafsir yang diutarakan lebih banyak membahas ayat selanjutnya dari ayat di atas. Yakni Faktuu khartsakum annaa syiktum. Maka datangilah ladang tempat kamu bercocok tanam bagaimana saja kamu kehendaki.

Baru-baru ini saya mendapat wawasan anyar yang berkaitan dengan ayat tersebut. Dibagikan oleh salah satu teman facebook saya, Mas Muhammad Faishal Ar Rifqy. Dikutip dari Dawuh Mbah Maimun Zubair. Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Rembang.

Bunyi kutipan yang dibagikan oleh Mas Faisal itu berbunyi seperti ini;

TIPS MENCARI ISTRI

KH. Maimun Zubair dhawuh,

"Nek milih bojo iku sing ora patiyo ngerti dunyo. Mergo sepiro anakmu sholeh, sepiro sholehahe ibune.

Sohabat Abbas iku nduwe bojo ora seneng dandan, nganti sohabat Abbas isin nek metu karo bojone. Tapi beliau nduwe anak ngalime poll, rupane Abdulloh bin Abbas.
 

Sayyidina Husain nduwe bojo anake Rojo Rustam (Raja Persia). Walaupun asale putri rojo, sakwise dadi bojone Sayyidina Husain wis ora patiyo seneng dunyo. Mulane nduwe putro Ali Zainal Abidin bin Husain, ngalim-ngalime keturunane Kanjeng Nabi. Kiai-Kiai Sarang ngalim-ngalim koyo ngono, mergo mbah-mbah wedo'e do seneng POSO. Syekh Yasin Al Fadani (ulama' asal Padang yang tinggal di Mekah) iku nduwe istri pinter dagang, nduwe putro loro.Sing siji dadi ahli bangunan, sijine kerjo neng transportasi. Kabeh anake ora ono sing nerusake dakwahe Syekh Yasin.

Neng Al Qur-an نساؤكم حرث لكم
Istri iku ladang kanggo suami.
Sepiro apike bibit tapi nek tanahe atau ladange ora apik, ora bakal ngasilno pari apik.

Intine iso nduwe anak ngalim, nek istrine ORA PATIYO NGURUSI DUNYO LAN KHIDMAH POLL KARO SUAMINE.
 

Nek kowe milih istri pinter dunyo, kowe sing kudu wani tirakat. Nek ora wani tirakat, yo lurune istri sing ahli dzikir, kowene sing mikir dunyo alias kerjo."

Kutipan diatas, sengaja saya tuliskan dengan bahasa aslinya. Agar selain tidak kehilangan ke-sakral-annya, juga agar ketika nanti dalam penerjemahan yang saya lakukan terdapat kesalahan, dapat dikoreksi oleh orang-orang yang lebih mengerti bahasa jawa.

Jika ditranslate kedalam bahasa Indonesia kurang lebih akan menjadi seperti ini;

TIPS MEMILIH ISTRI

KH. Maimun Zubair berkata,

“Jika memilih istri itu yang tidak terlalu suka dunia. Karena kadar kesolehan anakmu ditentukan oleh kadar kesolehaan ibunya.

Sahabat Abbas itu memiliki istri tidak suka dandan, sampai-sampai Sahabat Abbas malu jika keluar bersama istrinya. Tapi beliau memiliki anak yang sangan ‘Alim, yaitu Abdullah bin Abbas. Sayyidina Husain beristrikan putri Raja Rustam (Raja Persia). Walaupun asalnya adalah putri Raja, setelah menjadi istrinya Sayyidina Husain sudah tidak terlalu suka dunia. Makanya memiliki putra Ali Zainal Abidin bin Husain, keturunan Kanjeng Nabi yang paling ‘Alim. Kiai-kiai Sarang bisa ‘alim-‘alim seperti itu, karena nenek-neneknya pada suka berpuasa.

Syaikh Yasin Al Fadanai (ulama asal Padang yang tinggal di Mekah) itu memiliki istri yang pinter dagang, memiliki dua putra. Yang satu menjadi ahli bangunan, yang satunya lagi menjadi ahli transportasi. Tidak ada yang meneruskan dakwah Syaikh Yasin.

Disebutkan dalam Al Quran nisaaukum khartsul lakum.
Istri itu ladang bagi suami.
Sebaik-baiknya bibit, jika tanah atau ladangnya tidak subur, tidak akan menghasilkan padi yang berkualitas.

Intinya bisa memiliki anak yang ‘Alim, jika istrinya tidak terlalu suka dunia dan sangat berbakti pada suaminya.

Jika kamu memilih istri yang suka dunia, kamu yang harus berani tirakat. Jika tidak berani tirakat, ya carinya istri yang ahli dzikir, kamu yang memikirkan dunia alias kerja.”

Ucapan Mbah Maimun di atas, kurang lebih sama dengan “rahasia” yang pernah dituturkan oleh guru saya. Pak Kholid Furqon. Bahwa tirakat yang dilakukan ibu akan jatuh pada anak, sedangkan tirakat yang dilakukan oleh ayah akan jatuh pada cucu. Bertolak pada keyakinan atas rahasia tersebut, Pak Furqon sampai berkata seperti ini. “Tidak penting istri saya cantik atau tidak, yang penting mau diajak tirakat”.

Dan saya, sebagai pengonsumsi dua wawasan di atas yang datang dari dua sumber berbeda, belum berani menentukan kriteria harus seperti apa istri saya. Pengennya ya yang seperti itu. Minimal suka berdoa dan mendoakan lah. Tapi entahlah. Karena at thoyyibuuna litthoyyibaat. Laki-laki yang baik diperuntukkan bagi wanita yang baik pula. Firman Allah.

Pertanyaannya, sudahkah saya baik? Karena ‘kita’ adalah cermin.

Kulon Progo, 26 Juli 2015

5 komentar:

  1. kebutuhan ladangnya lebih utama sebelum menanam bibitdi ladang itu...dipaculin dulu ladangnya yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, , perumpamaan yang tepat.

      Hapus
  2. Wah, dhawung beliau memang mendalam. Sarat ilmu dan hikmah.

    BalasHapus
  3. nisa iku ladang, rajul iku pacul mas, hehehe

    BalasHapus