Kamis, 27 April 2017

Masjid Kalimantan dan Corak Islam Indonesia

Masjid Kyai Gede Kotawaringin


Membaca persebaran agama Islam di tanah Kalimantan, sejauh yang saya tahu ternyata banyak kesamaan atau justru terpengaruh dari Jawa. Hal yang paling mencolok yang tampak dalam pengamatan saya adalah bangunan-bangunan Surau atau Masjidnya. Kebanyakan bentuknya mirip dengan bangunan Masjid Demak. Atau dalam hal ini mirip dengan bangunan Pura, tempat Ibadah Umat Agama Hindu yang atapnya bersusun-susun.

Di tanah Jawa tempo dulu, pada masa awal penyebaran Agama Islam oleh Walisongo, tempat-tempat ibadah (Masjid) memang sengaja dibangun menyerupai Pura. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat yang pada mulanya beragama Hindu tidak segan atau merasa asing ketika memasuki Masjid. Bangunan Masjid yang diadaptasi dari Pura ini, kemudian mencadi corak dan khazanah tersendiri. Terutama bagi Muslim Indonesia di Tanah Jawa. Ketika menemukan banyak bangunan Surau dan Masjid di Kalimantan yang memiliki corak serupa, lantas timbulah dugaan saya bahwa Islam di Kalimantan mirip dengan Islam di Tanah Jawa.

Kesimpulan yang saya ambil tersebut sekaligus mengukuhkan dugaan bahwa Kyai Gede, tokoh penyebar Agama Islam di Kalimantan Tengah (Kotawaringin) memanglah seorang utusan Demak. Berbeda dengan beberapa pendapat bahwa Kyai Gede merupakan penduduk setempat yang kemudian memeluk Islam. Hal ini, dikarenakan bangunan Masjid yang dibangun oleh Kyai Gede arsitekturnya persis dengan banyak Masjid kuno di Tanah Jawa. Terutama Masjid Demak. Perbedaan yang tampak adalah, bahwa Masjid Kyai Gede dibangun tidak langsung di atas tanah. Melainkan berbentuk rumah panggung yang merupakan ciri khas bangunan Kalimantan tempo dulu. Bahkan Istana Al Nursari yang menjadi tempat tinggal Raja pertama di Kotawaringin juga bercorak rumah panggung.

Tentang rumah panggung ini, yang saya tahu memang terdapat tujuannya tersendiri. Sewaktu saya masih duduk di Sekolah Dasar, dari keterangan seorang guru bahwa rumah panggung dimaksudkan untuk menghindari serangan binatang buas yang pada masa itu masih banyak berkeliaran. Sedangkan kemungkinan kedua dari tujuan corak rumah panggung, menurut saya adalah untuk menjaga presisi bangunan itu sendiri. Kemiringinan tanah yang sering tidak beraturan, menyebabkan arsitek masa lampau menciptakan desain rumah panggung ini. Sehingga ke-datar-an lantai rumah dapat terjamin.

Faktor lain yang mungkin dapat menjadi latar belakang corak rumah panggung adalah, jenis tanah dan lokasi akan dibangunnya bangunan itu sendiri. Sampai tulisan ini ditulis, di Tanah Kalimantan masih banyak rumah-rumah yang berdiri di atas rawa. Sehingga, adanya rumah panggung memang merupakan tuntutan. Selain rawa, struktur tanah Kalimantan juga didominasi oleh tanah gambut, perlu menggali sampai kedalaman tertentu dari permukaan tanah untuk dapat menemukan tanah yang keras. Menggali pondasi mungkin dirasakan akan sangat merepotkan. Sehingga pondasi-pondasi pasak bumi yang kemudian menjadi bagian bawah rumah panggung mungkin menjadi solusi yang paling praktis.

Budaya rumah panggung yang turun temurun, lantas diikuti pula oleh banyak pendatang yang masuk ke Tanah Kalimantan. Salah satunya tentu saja Kyai Gede itu sendiri. Yang meskipun ukiran-ukiran dan gaya masjidnya merupakan model Demak, namun dibangun di atas pondasi pancangan-pancangan kayu yang ditancapkan ke tanah sehingga membentuk rumah panggung. Dalam segi bahan bangunan, Masjid yang dibangun oleh Kyai Gede juga berbeda jauh dengah Masjid di Tanah Jawa yang kebanyakan menggunakan Kayu Jati. Masjid Kyai Gede dibangun menggunakan Kayu Bulin. Jenis kayu yang di Kalimantan terkenal memiliki kualitas nomor wahid. Dan terbukti, setelah ratusan tahun Masjid Kyai Gede masih berdiri kokoh dan tetap digunakan ibadah oleh masyarakat sampai sekarang.

Itulah kawan, sebuah perpaduan budaya pendatang dan penduduk lokal yang sangat epik. Tidak ada saling pemaksaan antara keduanya. Yang ada adalah saling hormat-menghormati. Kyai Gede, seorang tokoh Islam dari Tanah Jawa, saya rasa paham betul dengan ujar-ujar “Dimana Bumi Dipijak, Disitu Langit Dijunjung”. Mencontoh Da’i-da’i ­sebelum Beliau yang dikenal dengan sebutan Walisongo. Para utusan Kesultanan Turki Usmani yang kemudian menjadi pendatang-pendatang baru yang santun di Tanah Jawa.

Lebih jauh lagi, mungkin Kyai Gede meniru sikap sahabat-sahabat Muhajirin Rosulullah SAW. yang menerima ketetapan-ketetapan yang telah lama ada di Kota Madinah. Menghormati hal-hal lama yang baik, kemudian memberikan sentuhan baru sebagai sumbangan ilmu pengetahuan dan inovasi.



Rabu, 12 April 2017
Ds. Sagu, Kec. Kotawaringin Lama, Kab. Kotawaringin Barat
Kalimantan Tengah


1 komentar:

  1. Indonesia memang kaya akan budaya, bukan hanya untuk dijaga dan dilestarikan,tp jg hrus dikawinkan agar menjadi budaya indonesia yang sejati, bukan budaya impor yang kerap menghancurkan dr kesatuan bangsa

    Visit balik gan
    http://bloggergaptek2.blogspot.co.id

    BalasHapus