Kamis, 20 April 2017

Pondasi Peradaban



Arca Prabu Airlangga
Tholabul ilmi fariidhotun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin.

Begitu kira-kira kaligrafi Arab bergaya Kufi yang tertulis di tembok kelas Pesantren saya kala itu. Tak hanya indah, kaligrafi ini juga menarik untuk diresapi maknanya. Satu kata dari kaligrafi itu yang kemudian perlu kita perhatikan lebih mendalam. Disitu tertulis fariidhoh. Dengan menambah huruf ya setelah ro.

Dalam keadaan biasa, kata fardhun yang berarti wajib, cukup ditulis dengan apa adanya. Sehingga, hadirnya huruf ya ini tampaknya memang mengandung maksud tersendiri yang khusus. Dan ini tidaklah mengherankan. Mengingat ujaran itu diucapkan oleh sosok paling jenius sepanjang masa. Rasulullah Muhammad SAW.

Penambahan huruf ya tersebut, jika ditelisik menggunakan gramatikal Bahasa Arab, yang dalam istilah Pesantren dikenal dengan ilmu Nahwu, dapat berarti ‘sangat’. Sehingga tulisan kaligrafi di kelas saya tersebut, jika diterjemahkan artinya akan menjadi seperti ini; “Mencari ilmu hukumnya sangat wajib bagi setiap kamu muslimin. Baik laki-laki maupun perempuan.”

Banyak peradaban luar biasa dapat dibangun dengan ilmu pengetahuan. Tengoklah sejarah Bani Abbasiyah. Betapa luar biasanya mereka. Ulama-ulama terkemuka dari berbagai fan ilmu pengetahuan banyak yang lahir dari masa kejayaan Dinasti ini. Dari dalam negeri, kita juga mengenal Prabu Airlangga. Seorang raja yang menghabiskan masa mudanya untuk belajar, sehingga namanya melegenda karena kebijaksanaanya memimpin negeri. Dihapuskannya perbudakan di wilayah kerajaanya, sehingga semua rakyat merdeka. Semua keputusan diambilnya bedasarkan intelektual. Bukan semata-mata kemauan pribadi. Tidaklah heran jika beberapa generasi setelahnya Prabu Airlangga masih dipuja sebagai Dewa yang menjelma manusia.

Peradaban Majapahit dapat kita dengar sampai sekarang karena jasa peninggalan banyak Mpu yang menjadi sastrawan istana maupun luar istana mewariskan banyak catatan. Tengoklah kitab Negarakertagama, atau Sutasoma. Dari banyak sikap yang dituliskan dalam dua kitab tersebutlah kemudian Islam dapat masuk dengan damai ke Negeri Majapahit.

Sultan Agung Hanyokrokusumo yang memimpin Kerajaan Mataram Islam merupakan salah satu Raja yang menyukai pengetahuan. Ia tidak segan untuk belajar pada banyak negeri tetangga tentang hal-hal yang belum Ia kuasai. Seperti ilmu kemaritiman misalnya. Tak heran jika hingga kini nama Sultan Agung tetap melegenda.

Banyak peradaban yang bertahan dan kemudian harum namanya karena dibangun di atas pondasi ilmu pengetahuan. Itulah kalau kita mengikuti Hadis Nabi di atas. Mementingkan ilmu pengetahuan di atas segalanya.

Dengan membekali anak cucu kita dengan ilmu yang cukup, tentu saja kita tidak perlu menghawatirkan masa depan mereka. Dengan ilmu yang dimilikinya, ia bisa menghadapi banyak tantangan. Memecahkan masalah-masalah yang pelik, dan lain sebagainya.

Contoh kecil dari luar biasanya kekuatan ilmu pengetahuan dapat kita temuai di pesantren-pesantren tradisional. Hampir setiap hari, dalam pesantren-pesantren itu mereka dibiasakan diskusi. Kemuadian pada waktu-waktu tertentu, diadakanlah Bahtsul Masail. Menjawab masalah-masalah kontenprer keumatan dengan berlandasakan kitab-kitab kuno. Yang bahkan ditulis beratus tahun yang lalu. Dan luar biasa, hampir semua masalah itu dapat diselesaikan. Itulah kekuatan ilmu penegtahuan kawan.

Ilmu pengetahuan sebagai yang utama, tetapi sesuatu yang menyokong untuk lestarinya ilmu pengetahuan juga jangan sampai terlewatkan. Karena terdapa kaidah dalam Pesantren yang berbunyi “ma la yatimmu alwajibu illa bihi fahuwa wajib”. Sesuatu yang menjadi perantara sempurnanya suatu kewajiban, maka sesuatu tersebut hukumnya juga wajib.

Jika menilik pada kaidah di atas, maka faktor ekonomi dan keamanan atau segala sesuatu yang mendorong lestarinya ilmu pengetahuan, harus pula didorong. Bekerja untuk mencari penghasilan harus tetap dilakukan disamping kegiatan belajar yang tanpa henti. Selain itu, sikap toleransi akhlaqul karimah dalam pergaulan harus dipupuk agar tidak terjadi perpecahan yang memicu kerusuhan. Sehingga lingkungan pendidikan, baik akademisi maupun pendidikan agama dapat senantiasa kondusif.

Di atas segalanya, sebagai seorang penuntut ilmu, hendaknya senantiasa berlaku santun. Kepada siapapun. Karena, apalah manisnya ilmu jika Ia justru meresahkan, jika justru merendahkan orang lain. Bukankah Rasulullah sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia?



Rabu, 19 April 2017
Ds. Sagu, Kec. Kotawaringin Lama, Kab. Kotawaringin Barat
Kalimantan Tengah
Turut berdoa agar pilkada DKI Jakarta tetap aman terkendali. Jika Ibu adalah cerminan hati nurani, maka Ibukota adalah cermin hati nurani Negara kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar