Selasa, 14 April 2015

Antara Murid dan Pengagum



Seorang kawan, yang entah karena apa, tiba-tiba berkata. “Din, gimana caranya agar kuiliah cepat rampung? Beri aku motivasi”. Lah saya langsung plonga-plongo. La wong saya ini gak bisa apa-apa kok dimintai motivasi.

Selama ini saya lebih banyak mengandalkan doa apabila mengiginkan sesuatu. Atau biasanya saya hanya ingin saja, dan tiba-tiba sesuatu itu diberikan secara cuma-cuma oleh Gusti Allah. Selain senang, terkadang saya juga bertanya-tanya. Memangnya apa kebaikan yang pernah saya lakukan? Kok Gusti Allah begini baiknya kepada saya? Jangan-jangan semua ini adalah cobaan? Entahlah, siapa yang tahu dan dapat menyelami bagaimana atau apa yang dikehendaki oleh Gusti Allah dengan semua ini. Yang jelas, sebagai makhluk yang tak bisa apa-apa, sudah semestinyalah saya mengucapkan beribu syukur.

Sekali waktu saya juga pernah menduga-duga bahwa kasih sayang Gusti Allah yang begitu melimpah itu gara-gara wirid/amalan yang saya amalkan secara mudawamah (istiqomah). Kan ada Ulama yang pernah berkata bahwa “al istiqomatu khoirum min alfi karomatin”. Bahwa istiqomah itu lebih utama daripada seribu karomah. Yup, wiridan ini pertama kali saya amalkan ketika saya kelas dua MA (Madrasah Aliyah). Tanggal tepatnya saya tidak ingat. Yang jelas tidak lama sebelum ujian semester ganjil. Alhamdulillah sampai sekarang wiridan ini masih saya amalkan.

Motivasi saya melanggengkan wirid ini bukan timbul dari diri saya sendiri. Tapi dari luar. Dari KH. Abdus Sami’ Hasyim. Suatu hari, selepas jamaah shalat maghrib, tiba-tiba Kyai saya itu berkata. “Santri-santri mulai sekarang setiap ba’da sholat maghrib dan ba’da sholat shubuh baca sholawat munjiyat satu kali saja”. Kurang lebih seperti itu dawuh yang beliau sampaikan. Hanya menyuruh membaca, dan sama sekali tidak memberitahukan kenapa kami harus membaca sholawat munjiyat itu. Dari ribuan santri di Pesantren saya itu, saya yakin akan tetap ada yang tidak manut pada dawuh Romo Kyai. Dan alhamdulillah saya termasuk dalam bagian yang manut. Meskipun membabi buta, tanpa tahu kenapa harus mengamalkan ini. Niat saya satu-satunya adalah manut atau patuh pada dawuh Kyai.

Bertolak dari pengalaman saya itu, saya lantas menganjurkan kepada kawan yang meminta motivasi dari saya itu agar Ia memiliki satu amalan yang didawamkan, diistiqomahkan. Tidak perlu yang hebat-hebat. Cukup satu meskipun sederhana yang penting langgeng. Istiqomah. Karena KH. Hasyim Sholeh, pendiri Pon. Pes. Darul Huda Ponorogo juga pernah dawuh yang kurang lebih seperti ini. “Amalan itu menjadi luar biasa bukan karena amalan itu memang luar biasa. Tapi karena Ia diamalkan secara istiqomah”. Dan yang namanya amalan tidak harus sesuatu yang bersifat religius. Bisa juga hal-hal yang bersifat keduniawian. Membersihkan jalan gang di depan rumah kita misalnya, atau menata rak buku teman sekamar bagi yang tinggal dalam asrama/pesantren. Jika dilakukan secara tulus dan istiqomah, insyaallah akan memberikan efek yang luar biasa.

“Dahulu, ketika masih di Pondok (Jombang) saya juga sering sholat malam. Tapi sekarang susah untuk meneruskan kebiasaan itu.” Kata kawan saya. Hemm,, dari sekitar tujuh miliar penduduk bumi, berapa persen-kah yang mampu melawan dirinya sendiri. Sedangkan perang badar yang demikian dahsyatnya itu, masih kalah dahsyat daripada jika kita berperang melawan hawa nafsu, diri kita sendiri. Ternyata memang benar, kawan saya itu mampu melakukan sholat malam di Pesantren-nya dulu bukan lantaran dorongan dari dirinya sendiri. Melainkan ada dorongan lain.

Kawan saya itu dapat bangun dini hari karena Ia memerlukan untuk mengisi daya baterai Hp-nya. Entah karena apa Ia harus mengisi baterai HP pada waktu dini hari itu. Yang jelas, karena memerlukan mengisi baterai HP yang waktunya harus dini hari itulah aka kawan saya dapat bangun dan melaksanakan sholat malam.

Menyadari bahwa menumbuhkan kesadaran dari diri sendiri itu susahnya luar biasa, lantas saya anjurkan agar kawan saya itu mencari motivasi yang sifatnya dari luar. Seperti yang saya lakukan itu. Dapat mendawamkan sholawat munjiyat karena ada dorongan dari luar. Dari Kyai saya itu.

Agar lebih mudah, lantas saya sampaikan gagasan yang pernah disampaikan oleh guru Pencak saya, Iman Widodo. Bedakan antara murid dan pengagum. Gagasan ini penting untuk disampaikan, karena tanpa kita sadari, banyak di antara kita yang secara sekilas tampak sebagai murid, tapi pada hakikatnya hanya berhenti menjadi pengagum. Contohnya banyak santri yang kagum pada ke-istiqomah-an Kyainya. Namun Ia hanya kagum. Tidak berusaha bagaimana agar dapat meniru sifat istiqomah Pak Kyai tersebut. Padahal Pak Kyai itu adalah gurunya. “Guru” yang dalam bahasa Jawa sering diartikan sebagai kependekan dari “digugu lan ditiru”, diperhatikan dan ditiru, kini hanya berhenti pada diperhatikan dan dikagumi. Tidak lantas ditiru. Betapa ironisnya.

Jadi sekali lagi kawan, jika engkau mengaku santri dari KH. Hasyim Asyy’ari, atau ulama besar lain misalnya. Cobalah lihat bagaimana perjalanan hidup Mbah Hasyim, atau siapapun gurumu itu, kemudian tirulah. Karena guru ada untuk digugu dan ditiru. Kemudian dikembangkan sebisa-bisa kita.

Yogyakarta, 13 April 2015

2 komentar: