Jumat, 21 Maret 2014

Tirakat

Sumber: muklason.wordpress.com

didinmahardi.blogspot.com – Bila Anda sering bergaul dan mencoba menyelami semangat spiritualitas kaum Abangan, tentu Anda akan sering menjumpai kata “Tirakat.” Sebenarnya tidak hanya kaum Abangan. Semua umat Islam dan mungkin juga pemeluk Agama lain saya rasa juga mengenal kata Tirakat. Seperti Mahatma Gandhi misalnya, beliau juga melakukan tirakat untuk meraih kemerdekaan bangsanya. Meskipun, mungkin di India sebutannya bukan Tirakat. Yang jelas jalan yang ditempuh hampir sama dengan yang dinamakan “Tirakat” di Indonesia.

Bila saya mengidentikan tirakat dengan kaum Abangan, itu karena memang menurut saya merekalah yang lebih dekat dan sering melakukan tirakat. Selain kaum Abangan, ada lagi kelompok yang juga sering melakukan tirakat. Mereka itulah kaum Pesantren. Terutama kaum Pesantren Tradisionalis.


Kaum Pesantren dan Kaum Abangan ini, hobinya ya tirakat (mungkin hehe…). Sedikit-sedikit tirakat. Mau Ilmunya barakah dan manfa’at, harus tirakat. Pengen punya keturunan yang baik, harus tirakat. Pengen lebih dekat dengan Tuhan, harus tirakat. Dan masih banyak hal-hal lainnya yang mengharuskan TI-RA-KAT.

Sudah. Pengantarnya cukup sekian saja. Nggak usah penjang-panjang. Sekarang saya mau langsung mengulas apa itu tirakat.

Tirakat, konon berasal dari Bahasa Arab Taroka. Artinya meninggalkan. Kata Taroka tersebut jika diteruskan akan tertulis seperti ini; Tarkul Ma’siyat. Artinya meninggalkan ma’siyat. Mungkin inilah sebabnya kenapa jenis tirakat yang jamak diketahui masyarakat adalah PUASA. Karena menurut suatu keterangan, puasa (rasa lapar) adalah cara yang paling ampuh untuk mengekang Hawa Nafsu. Terlepas dari benar atau tidaknya ‘keterangan’ ini, saya sarankan teman-teman pembaca untuk mencobanya sendiri. Maksud saya menganalisis lebih banyak mana ma’siyat yang kawan lakukan ketika dalam keadaan puasa dan tidak puasa.

Meskipun tirakat yang jamak diketahui masyarakat adalah puasa, bukan berarti puasa adalah satu-satunya tirakat yang dapat dilakukan. Bukan berarti pula bahwa puasa adalah tirakat yang paling ampuh dan cespleng. Seorang Guru saya (Gus ‘Izzudin ‘Abdul ‘Aziz), pernah mengatakan bahwa tirakat yang paling ampuh adalah melek bengi. Maksudnya terjaga diwaktu malam atau Qiyamul Lail. Kalau nggak percaya, silahkan tanyakan ke dukun-dukun yang ada di sekitar Anda hehe….

Jenis tirakat ini macam-macam. Yang penting istiqomah. Bahkan saya pernah membaca disalah satu majalah, bahwa ada seorang ibu yang istiqomah menyapu jalan disekitar rumahnya ketika shubuh menjelang. Meskipun kegiatan tersebut beliau laukan setiap hari, namun tidak ada tetangga sekitar yang mengetahuinya. Karena rutinitas tersebut beliau lakukan diwaktu menjelang shubuh. Disaat kebanyakan orang sedang lelap-lelapnya. Baru setelah ibu itu meninggal, anak-anaknya mau berbagi kisah perjuangan Ibundanya itu ke pihak Majalah.

Ibu yang saya ceritakan diatas adalah seorang janda. Pekerjaannya kalau saya nggak salah ingat adalah pedagang di pasar/buruh tani. Tapi, semua anaknya bisa menempuh pendidikan sampai kejenjang Sarjana. Menakjubkan bukan!.
.
.
Bersambung ke Tirakat 2

4 komentar: